Moms dikatakan mengalami haid tidak teratur jika siklusnya kurang dari 21 hari atau lebih dari 36 hari. Bisa juga ditandai dengan siklus yang variasinya signifikan setiap bulannya. Contohnya, bulan lalu siklusnya selama 23 hari, bulan ini baru haid lagi setelah 40 hari. Memang ada penelitian yang menemukan kalau hal itu berhubungan dengan infertilitas. Tapi apakah memang selalu begitu? Berikut ulasan mengenai cara mengetahui haid tidak teratur bisa hamil.
BACA JUGA: Haid Tidak Teratur? Ketahui Beberapa Penyebabnya
Cara Mengetahui Masa Ovulasi ketika Haid tidak Teratur
Untuk Moms yang memiliki siklus haid tidak teratur, maka harus menggali lebih dalam agar bisa memprediksi waktu paling subur Anda. Cara yang bisa dilakukan sebagai berikut.
Memberi tanda di kalender
Cara pertama Moms bisa memanfaatkan kalender untuk menyimpan data siklus haid Moms. Jika Moms rutin melakukannya setiap kali haid, maka akan semakin jelas pula pola dari haid Moms. Selain membantu untuk memperkirakan hari-H ovulasi, cara ini juga bisa Moms gunakan untuk pemeriksaan ginekologi, jika dibutuhkan.
Mengecek lendir di serviks
Adanya lendir di serviks merupakan hasil sekresi vagina. Adanya lendir di serviks bisa dijadikan penunjuk terkait masa ovulasi. Biasanya setelah haid, serviks akan mengalami ketiadaan lendir. Lendir itu akan muncul lagi menjelang ovulasi. Lendir selama ovulasi tersebut tampak jelas transparan, elastis, dan kental. Dengan kata lain, teksturnya mirip putih telur. Di hari paling subur, kondisi lendir biasanya paling berwarna terang, licin, dan paling elastis.
Melakukan tes urin
Untuk melakukan tes ini, Moms memerlukan alat khusus. Alat itu dijual bebas kok Moms. Kegunaannya untuk untuk memeriksa kelebihan hormon dalam urin ketika dalam masa ovulasi. Atau Moms bisa membeli monitor kesuburan. Jika menggunakan monitor tersebut, Moms harus mengumpulkan urin secara teratur. Nanti alat tersebut akan memperkirakan masa ovulasi berdasarkan tingkat hormon yang terekam dari urin Moms.
Mengecek suhu basal tubuh
Moms membutuhkan termometer khusus untuk melakukan pengukuran ini, namanya termometer basal digital. Suhu basal tubuh dicek segera setelah bagun tidur sebelum beranjak dari tempat tidur. Lakukan perekaman dari hari ke hari. Jika tampak adanya peningkatan, kemungkinan Moms memasuki masa ovulasi.
Melakukan tes darah di laboratorium
Sebelum melakukan tes darah, tentunya Moms harus terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter. Biasanya dokter dapat akan tes darah yang harus Moms lakukan untuk menentukan masa ovulasi. Tes-tes tersebut sangat berguna untuk Moms yang sedang menjalani program hamil. Selain tes darah, tidak menutup kemungkinan dokter Anda juga melakukan tes lainnya.
BACA JUGA: Ketahui Penyebab Haid Tidak Teratur dan Pengaruhnya dengan Masa Subur
Berbagai Gangguan yang Meningkatkan Risiko Infertilitas

Tidak selamanya haid tidak teratur menandakan ketidaksuburan. Di atas telah disebutkan cara-cara yang dapat Moms lakukan untuk mengetahui masa ovulasi. Jadi apakah haid tidak teratur bisa hamil? Jawabannya bisa. Namun ada gangguan berikut yang bisa meningkatkan risiko infertilitas. Apa saja?
- Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)
Sekitar 1 dari 8 wanita mengalami gangguan endokrin ini. Meski meningkatkan risiko infertilitas, namun tidak berarti Moms tidak subur jika memiliki PCOS. Moms hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk hamil.
- Hyperprolactinemia
Kondisi ini terjadi saat ada peningkatan kadar hormon prolaktin padahal Moms sedang tidak hamil atau menyusui. Tingginya kadar prolaktin bisa menyebabkan siklus haid Moms menjadi tidak teratur. Yang lebih parah bisa menghentikan haid.
- Primary ovarian insufficiency (POI)
Dikenal juga dengan nama premature ovarian failure (POF). Jika Moms mengalami ini, siklus haid bisa menjadi tidak teratur bahkan berhenti. Kondisi ini terkadang disertai dengan rendahnya kadar hormon estrogen. Beberapa gejala yang umum, seperti keringnya vagina, nyeri ketika berhubungan seksual, hingga cemas tanpa sebab.
Jadi tidak perlu terlalu khawatir lagi ya, Moms, karena haid tidak teratur bisa hamil juga kok.